Berawal dari Security Hingga Menjadi Model

 

 

Orang yang berani bangkit dari kegagalan adalah pemenang sejati. Kalimat ini sesuai dengan apa yang dialami oleh Bahtiar Miftah Farid. Pria kelahiran Lampung ini yang pada awalnya memiliki cita-cita sebagai polisi namun ternyata apa yang ia impikan tidak sesuai dengan kenyataan. Kecewa merupakan hal yang wajar saat mengalami kegagalan dan inilah yang dialami Bahtiar. Setelah gagal pada seleksi kepolisian, Ia diberikan penghiburan dari Ayahnya yang kemudian membangkitkan semangatnya untuk mengejar impiannya dengan profesi lain yang memiliki fungsi serupa.

Bermula dari liburan ke Jakarta bersama kakak, Bahtiar berniat untuk melamar pekerjaan sebagai security outsourcing di salah satu gedung perkantoran Jakarta Utara. Menurut Bahtiar, baik menjadi polisi maupun security sama-sama mempunyai tugas untuk menjaga keamanan walaupun dengan konteks berbeda. “Menjadi security bukanlah hal sepele, tetapi dengan menjadi security saya dapat bertemu dengan banyak orang setiap hari sehingga saya juga belajar karakter orang banyak bahkan mengawasi suatu tempat” ujar pria kelahiran 20 Juni 1996 ini.

Setelah menjalani profesi security selama beberapa bulan dengan sungguh-sungguh, Bahtiar mendapat tawaran untuk menjadi model sebagai sprinter J&T Express, salah satu perusahaan di tempat ia bekerja sebagai security. Ia mengambil kesempatan ini dan ia mulai tertarik untuk mencari tahu lebih banyak mengenai J&T Express hingga pada akhirnya ia tertarik melamar pekerjaan sebagai Office Boy di J&T Express.

Menjadi Office Boy pun tidak mengecilkan hati Bahtiar karena menurutnya ia dapat belajar banyak hal yang sebelumnya bahkan ia tidak ketahui. Bahtiar tidak hanya melakukan pekerjaan bersih-bersih pada umumnya tetapi ia mengambil kesempatan untuk belajar mengenai pajak saat membantu divisi finance, belajar mengenai sistem pemantauan paket pada saat membantu divisi network, belajar mengenai sistem pengiriman paket hingga dana operasional pengiriman paket yang dibutuhkan saat di divisi operasional, dan juga terlibat proses shooting serta belajar membuat video saat membantu divisi branding. Baginya, ini merupakan pengalaman yang mahal.

“Sejak bekerja disini saya dapat menabung, mengirimkan uang untuk Ibu setiap bulan bahkan membeli kendaraan walaupun bekas. Di perusahaan ini saya juga merasa dihargai dan dianggap sebagai keluarga” Ujar Bahtiar saat ditanya kesan selama bekerja di J&T Express. Meskipun Bahtiar tidak dapat mencapai impiannya sebelumnya, sejak bekerja di J&T Express, Bahtiar memiliki visi baru yakni untuk kuliah jurusan multimedia dan menjadi Video Designer seperti yang ia pelajari dari divisi Branding.

Semangat Bahtiar untuk bangkit dari kegagalan patutlah kita tiru karena kegagalan bukanlah akhir, melainkan awal dari kesuksesan.